[SINOPSIS]
Dahulu kala, di Kerajaan Tanggultang, Raja Pandan Lawik dan permaisurinya mendambakan seorang anak. Namun, raja hanya menginginkan seorang putra karena kepercayaan masa itu menyatakan bahwa anak perempuan akan membawa malapetaka. Ketika akhirnya sang permaisuri mengandung, kebahagiaan bercampur dengan kecemasan. Sebelum berlayar, raja mengeluarkan titah kejam: jika anak yang lahir perempuan, ia harus dibinasakan.
Waktu berlalu, sang permaisuri melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Hatinya dipenuhi kasih sayang sekaligus ketakutan. Tak tega mengorbankan darah dagingnya sendiri, ia menyusun rencana untuk menyelamatkan putrinya, Pancodik. Dengan bantuan rakyat, bayi itu disembunyikan di tempat yang aman, sementara raja diberi bukti palsu berupa botol berisi darah kambing agar percaya bahwa anak perempuan itu telah dimusnahkan.

Pancodik tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan berbakat. Ia hidup jauh dari istana, diasuh oleh neneknya di Bukit Tinggi Tanggultang. Sementara itu, sang raja tetap tidak mengetahui keberadaannya, mengira bahwa perintahnya telah dilaksanakan.
Lima belas tahun kemudian, Raja Pandan Lawik kembali dari pelayaran panjangnya. Permaisuri menggelar pesta besar sebagai penyambutan dan juga untuk memastikan kebohongan tetap terjaga. Semua rakyat hadir, bersaksi bahwa anak perempuan itu telah dimusnahkan, sesuai perintah raja.
Namun, di luar dugaan, ada satu saksi yang mereka lupakan—seekor burung bernama Dendang Buto yang dapat berbicara seperti manusia. Dengan suara lantang, burung itu membongkar kebenaran bahwa Pancodik masih hidup dan telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa.
Murka, Raja Pandan Lawik segera mencari anaknya. Dengan amarah membara, ia mendaki Bukit Tinggi Tanggultang dan menemukan sebuah benteng tua yang tampak terawat. Semua itu memperkuat keyakinannya bahwa putrinya memang bersembunyi di sana.
Ketika memasuki benteng, ia melihat seorang gadis remaja berdiri di hadapannya dengan tatapan polos dan penuh ketulusan. Pancodik tidak tahu bahwa ayahnya membencinya dan datang dengan niat membinasakannya. Saat raja menghunus pedang, Pancodik berlari ketakutan. Namun, raja yang kelelahan berpura-pura menerima kehadirannya dan memanggilnya dengan nada lembut. Tanpa curiga, Pancodik mendekat.

Saat gadis itu berada dalam jangkauan, raja menangkapnya erat. Seketika, sesuatu yang ajaib terjadi. Tubuh Pancodik perlahan berubah menjadi serat-serat halus yang menyatu dengan pakaian ayahnya. Jubah sang raja kini berubah menjadi kain emas yang indah. Dari dalamnya terdengar suara lirih Pancodik, seolah berbicara kepadanya.
Di kamar Pancodik, raja menemukan pakaian yang telah dijahit dengan rapi—bukti bahwa anak yang selama ini ia benci justru mencintainya dengan tulus. Pancodik telah mempersiapkan pakaian-pakaian untuk ayahnya, berharap suatu hari bisa merawatnya.
Kesadaran menghantam raja dengan keras, tetapi semuanya sudah terlambat. Penyesalan menyelimuti dirinya, dan sejak saat itu, ia tidak pernah melepas jubah emas yang kini menjadi satu-satunya peninggalan Pancodik—anak yang telah ia sia-siakan selamanya.
---
Penyunting: Alma Tegar
Ilustrator: Frederick Sabam
Naskah cerita ini telah melalui proses Lokakarya Kesepakatan Para Tokoh Masyarakat dan Budayawan Sibolga-Tapteng pada 2023
Baca lebih lengkap dalam Buku Antologi Cerita Rakyat Pasisi Sibolga - Tapanuli Tengah
Comments