top of page
  • Writer's pictureFKK Sibolga-Tapteng

GEDUNG BANK INDONESIA - SIBOLGA YANG SELALU AKAN DIKENANG

02 Desember 2022


Indahnya arsitektur atap bangunan ini menjadi ikon dan ciri khas yang mengisi kawasan perkantoran dan ruang terbuka publik di Kota Sibolga. Keberadaan bangunan ini juga didasari oleh sejarah kota yang menjadi pusat perdagangan di pantai barat Sumatera Utara sejak abad ke-18, mulai era Tuanku Dorong Hutagalung, Datuk Itam, masa kolonial Belanda, hingga era kemerdekaan. Menjadi ikon kota selama berpuluh tahun, latar keramaian, dan saksi berbagai acara yang diselenggarakan di Lapangan Simaremare.

Pembangunan Gedung Kantor Kas Bank Indonesia - Sibolga menjadi tanda pengukuhan pusat ekonomi dan diresmikan pada 02 Maret 1978 oleh Gubernur Bank Indonesia, Rachmat Saleh. Gedung ini menjadi salah satu proyek pembangunan nasional yang telah dilakukan sejak Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto. Pada tahun yang sama, diresmikan pula Masjid Istiqlal di Jakarta. Artinya harapan pembangunan dan perkembangan perekonomian kawasan pantai barat telah ditancapkan di Kota Sibolga berupa bangunan berarsitektur modern vernakular, sebagai tanda ekspresi dan eksistensi kearifan lokal yang mengisi khazanah nilai budaya nusantara.


Bagi masyarakat Kota Sibolga, keberadaan bangunan ini merupakan sebuah kebanggaan dan menjadi sesuatu yang 'dipamerkan' kepada para pengunjung yang datang. Gagah, indah, dan berkarakter hanyalah perwakilan kata yang menggambarkan bangunan ini dan akan lebih dapat dinikmati apabila menyaksikannya secara langsung, terutama ketika pagi hari diterpa sinar matahari yang memperkuat gubahan estetikanya. Berkesempatan memasuki dan melihat interiornya menjadi sebuah keberuntungan, sebagaimana yang pernah dirasakan oleh teman-teman FKK Sibolga Tapteng ketika rapat, diskusi, dan audiensi bertemu Kepala dan jajaran Bank Indonesia KPw. Sibolga.

"Keberadaan bangunan ini merupakan sebuah kebanggaan"

Selain bentuk dan ornamen yang melekat pada atap bangunan, bagian 'badan' bangunan menunjukkan wujud langgam modern dan material eksterior yang menjadi tren pada masa pembangunannya di tahun 70-an. Bagai sebuah wujud romantisme sosok, fungsi, dan sejarah yang layak untuk dilestarikan dan dijadikan etalase informasi tentang profil dan pembangunan perekonomian di pantai Barat Sumatera Utara, termasuk untuk kepentingan budaya dan pariwisata.

Berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pada Bab III pasal 5 disebutkan bahwa Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria: berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun; memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Dan Gedung Bank Indonesia - Sibolga ini hanya membutuhkan kurang lebih 5 tahun lagi untuk dapat dijadikan bangunan Cagar Budaya.


Namun kebijakan mempertimbangkan hal yang berbeda dimana fungsi vital dari Bank Indonesia di Kota Sibolga menjadi prioritas utama, sehingga kebutuhan ruang kerja pegawai harus diakomodasi melalui pembangunan gedung baru yang akan dibangun pada 2023 dan konsekuensinya merubuhkan gedung yang ikonik ini. Dengan keterbatasan lahan yang ada, pilihan untuk membangun bangunan baru ini dinilai yang terbaik dibandingkan pendekatan desain arsitektur bangunan yang merespon bangunan cagar budaya seperti yang berhasil dilakukan di beberapa kota di dunia.

"Kebutuhan ruang kerja pegawai harus diakomodasi melalui pembangunan gedung baru"

A. Desain bangunan apartemen baru merespon bangunan bersejarah yang dibangun pada 1880-an di Fitzroy, Australia (Link Sumber)

B. Desain gedung kantor yang mempertahankan rumah bersejarah yang dibangun pada 1901 di Vancouver, Kanada (Link Sumber)

C. Desain asrama mahasiswa yang merespon bangunan berumur 120 tahun di Egham, Inggris (Link Sumber)


Sebuah dinamika perjalanan pembangunan ke depan tetap harus direspon secara positif. Kiprah, tanggung jawab, dan peran Bank Indonesia KPw. Sibolga terhadap pembangunan sungguh luar biasa, termasuk dukungan terhadap program-program yang dilakukan oleh FKK Sibolga Tapteng. Apresiasi kami mewakili masyarakat Kota Sibolga dan sekitarnya terhadap Gedung Bank Indonesia - Sibolga yang pernah mengisi kebanggaan di hati dan selalu akan dikenang,


FKK Sibolga Tapteng juga telah mendokumentasikan Gedung Bank Indonesia - Sibolga melalui program Pemetaan Sumber Daya Budaya (Cultural Resource Mapping) yang merupakan bagian dari skema besar pendekatan Manajemen Sumber Daya Budaya (Cultural Resource Management). Sebuah upaya partisipatif yang digagas untuk menyimpan informasi kekayaan budaya Sibolga Tapteng baik itu benda maupaun tak benda.


Program pemetaan tersebut sangat jauh dari kata cukup dan perlu pengembangan lagi, serta menjadi pesan bagi kita semua, untuk memahami bahwa terdapat tantangan bagi seluruh pemangku kepentingan di Kota Sibolga, yaitu bagaimana upaya pelestarian bangunan-bangunan bersejarah yang berpotensi menjadi cagar budaya harus dilakukan secara terpadu dan terprogram. Tanpa upaya ini, bukti-bukti Kota Sibolga sebagai kota bersejarah akan hilang ditelan pembangunan yang tidak terkendali. Dan akan menjadi sumber daya pariwisata yang besar jika berhasil dilakukan.


(ATR)




87 views0 comments

Comments


bottom of page