top of page
  • Writer's pictureFKK Sibolga-Tapteng

RABO GADANG - FESTIVAL MANGURE LAWIK

Updated: May 31, 2021

27 Mei 2021


Festival Mangure Lawik sebagai sebuah festival budaya yang diharapkan menjadi acara yang rutin dilakukan setiap tahun dalam rangka wujud syukur dan upaya pelestarian bahari Teluk Tapian Nauli. Festival ini dilaunching pada tanggal 21 November 2020 yang bertepatan dengan Hari Perikanan Nasional. Salah satu yang menarik dari transformasi budaya Mangure Lawik ini adalah manisfestasi ekspresi syukur masyarakat Pesisir Sibolga yang dulunya dianggap bertentangan dengan agama yaitu berupa 'persembahan' kepala kerbau (yang disembelih saat kenduri di daratan) ke tengah laut, diganti menjadi penanaman instalasi jaring laba-laba struktur besi untuk media tumbuhnya terumbu karang di zona konservasi laut. Di dunia perikanan, instalasi untuk rumah ikan ini disebut rumpon dan dalam bahasa lokal pesisir disebut rabo. Maka dari itu, disepakati bahwa instalasi ini dinamai dengan Rabo Gadang.

Nama ini ditentukan melalui pengkhayatan terhadap budaya Pesisir Sibolga yang diharapkan menyatu dengan tujuan kelestarian bumi pertiwi. Konsep festival yang ditujukan untuk menyampaikan pesan-pesan kelestarian alam bahari dan budaya melalui kemasanan seni dan pariwisata, berupa arak-arakan karnaval di perkotaan sebelum 'diadatkan' dan ditanam di zona konservasi. Rabo Gadang diturunkan dari morfologi elemen hias mahkota anak daro (pengantin perempuan) Pesisir Sibolga yang dikenal dengan Sanggu Gadang. Dalam kebudayaan nusantara, elemen dari perempuan sering digunakan untuk melambangkan nilai kesuburan dan kelestarian.

Dalam perencanaannya, jika festival budaya ini dilakukan rutin setiap tahunnya, maka ekosistem bahari di lokasi zona konservasi dan zona pemanfaatan akan pulih kembali, sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. 87/KEPMEN-KP/2020. Dampaknya daya tarik wisata bahari akan semakin menarik wisatawan untuk berkunjung, juga hasil tangkap ikan bagi nelayan tradisional akan bertambah. Bahkan jika merujuk keberhasilan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, nelayan tradisional tertarik untuk 'berganti' profesi menjadi pemandu wisata bahari dengan interpretasi kearifan lokal. Selain pendapatan ekonomi semakin baik, juga ekosistem bahari semakin terjaga. Masyarakat lokal dan wisatawan semakin mengapresiasi keindahan alam. Mangure Lawik akan menjadi budaya yang benar-benar mengakar dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat Pesisir Sibolga.

Komitmen seluruh stakeholder atau pihak-pihak berkepentingan sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama ini. Mulai dari Pemerintah Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Polri, TNI AL, swasta pelaku industri perikanan, komunitas nelayan, komunitas masyarakat adat, komunitas pemuda, lembaga pendidikan dasar - menengah - tinggi, hingga media, serta pemangku kepentingan lain, Elemen pentahelix ini harus saling merangkul dan mengingatkan, sehingga menjadi sebuah sistem kontrol sosial yang kuat dan bersama mengimplementasikan program kegiatan sesuai lingkup dan peran masing-masing. Lagi-lagi komitmen bersama ini membuktikan kesakralan nilai Mangure Lawik sebagai hajatan bersama, bukan hanya satu dua kelompok saja.


FKK Sibolga Tapteng hanyalah 'kompor' pemantik dari wacana-wacana yang sebenarnya telah sering didiskusikan. Nyala api telah menghangatkan kita melalui berbagai rangkaian acara Festival Mangure Lawik 2020, seperti Duduk Samo Dusanak yang diselenggarakan tiga kali, beberapa podcast yang unggah di youtube, audiensi dan diskusi dengan berbagai stakeholder, dan puncaknya berupa Launching Festival Mangure Lawik yang diresmikan langsung oleh Walikota Sibolga pada 21 November 2020, dengan tajuk "Lestari Budayaku, Lestari Bahariku".

Rabo Gadang hanyalah sebuah simbol dan manifestasi acara budaya Festival Mangure Lawik. Semoga dengannya kita jadi mengingat untuk bersyukur dan melestarikan alam bahari, sekaligus menjaga budaya. Bukan untuk siapa-siapa, ini untuk diri kita sendiri. Merujuk pada visi Walikota dan Wakil Walikota Sibolga 2021-2024 yang ingin mewujudkan Kota Sibolga yang Sehat - Pintar - Makmur,

  • Sehat dimaknai dengan tercapainya kesehatan jasmani dan rohani melalui aktivitas bersosial-budaya Festival Mangure Lawik;

  • Pintar dimaknai dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran masyarakat akan potensi dan kelestarian budaya dan ekosistem bahari; dan

  • Makmur dimaknai dengan diperolehnya nilai manfaat dan ekonomi dari penyelenggaraan Festival Mangure Lawik baik itu secara langsung di sektor pariwisata dan industri kreatif, maupun tidak langsung dari pulihnya sektor perikanan.

Semoga apa yang telah dimulai dan terus berlanjut, sebagaimana harapan yang dituliskan pada Piagam Lestari Budayo Bahari Siboga 2020.

_______


Terima kasih atas dukungan Yayasan dan STPK Matauli yang berpartisipasi dalam mewujudkan Rabo Gadang pada Festival Mangure Lawik 2020.


(ATR)



370 views0 comments

Commentaires


bottom of page