top of page
  • Writer's pictureFKK Sibolga-Tapteng

FESTIVAL MANGURE LAWIK 2022 - SEA.LEBRATION

08 Desember 2022


Saat ini dapat diamati bahwa Sibolga – Tapteng mengalami beberapa masalah dari berbagai aspek kehidupan yang saling terkait, antara lain sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi. Terdapat permasalahan ekologi di Sibolga – Tapteng yang memiliki wilayah laut, yaitu kerusakan dan tidak lagi menjadi sarang atau berkumpulnya ikan, sehingga nelayan tradisional kesulitan untuk mencari ikan. Sedangkan nelayan yang lebih besar dengan kapalnya, dapat mencari ikan hingga di lautan lepas. Hal ini terjadi karena masa lalu industri perikanan yang kelam, kurangnya kesadaran keberlanjutan terhadap lingkungan laut, sehingga penggunaan pukat harimau/trawl dan bom menjadi sesuatu yang ‘dibenarkan’.


Aspek budaya juga mengalami pola yang sama dengan ekologi, yaitu penurunan atau mulai ‘menghilangnya’ sebagai akibat dari kurangnya pelaksanaan di kehidupan sehari-hari dan tindakan pelestarian melalui pendidikan formal dan informal. Dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga isu strategis yang dihadapi oleh Sibolga - Tapteng:

  • Pengenalan kembali tentang sejarah pembentukan dan budaya Sibolga - Tapteng;

  • Pengembangan industri pariwisata dan kretif di Sibolga;

  • Degradasi sumber daya alam laut yang perlu diremajakan kembali.

Dibalik permasalahan tersebut, terdapat potensi yang sangat besar berupa sumber daya alam dan budaya di Sibolga – Tapteng yang juga sangat beragam dan berpotensi untuk dikelola menjadi sebuah produk kreatif baik itu berupa benda maupun tak benda seperti event/festival.


Pada tahun 2020, FKK Sibolga Tapteng telah melakukan serangkaian kegiatan dalam rangka Festival Mangure Lawik 2020, yaitu berupa diskusi kebudayaan yang berjudul Duduk Samo Dusanak yang dilaksanakan sebanyak tiga kali, yaitu masing-masing tema terkait pelestarian kebudayaan, pelestarian ekosistem bahari, dan pengembangan sektor pariwisata. Dilakukan pula komunikasi publik dan audiensi ke berbagai stakeholder terkait untuk membangun kesepahaman bersama tentang transformasi budaya Mangure Lawik sehingga dapat diterima dan berkonteks kekinian. Pada 21 November 2020, dilakukan Launching Festival Mangure Lawik yang diresmikan langsung oleh Walikota Sibolga ditandai dengan ditanda-tanganinya Piagam Lestari Budayo Bahari Siboga 2020.


Perjuangan untuk meyakinkan para stakeholder kembali dilakukan pada 2021, melalui acara Duduk Samo Dusanak – FGD: Festival Mangure Lawik 2021: The Treasure of Seabolga, dengan tema Gebyar Budaya Lestari, Tebar Pesona Bahari, yang juga menghadirkan narasumber dari Pelaku Biorock, Pamuteran, Bali dan Kemenparekraf.

Pada Bulan Lestari 2022, ini kembali digagas sebuah Festival Mangure Lawik 2022, dengan judul Sea.Lebration dengan menekankan kemeriahan selebrasi dan transformasi yang selama ini telah dilakukan. Gagas Transformasi, Hias Destinasi merupakan tagline judul yang menjelaskan festival untuk publik menjadi gebyar pesta rakyat untuk melestarikan kebudayaan sekaligus bersiap diri untuk menjadi destinasi pariwisata di Sumatera Utara.


Festival Mangure Lawik pada dasarnya dilaksanakan dalam tiga rangkaian kegiatan, yaitu:

  • Kanduri Mangure Lawik, merupakan acara adat yang berupa doa bersama dan penyampaian pesan-pesan adat terhadap wujud syukur dan kelestarian ekosistem bahari, dihadiri oleh komunitas nelayan, tokoh budaya, komunitas masyarakat, pemerintah Kota Sibolga dan Kab. Tapanuli Tengah, aparat penegak hukum, dan pihak terkait lainnya. Ciri khas awal prosesi adalah pemotongan kerbau untuk dijadikan hidangan.

  • Karnaval, merupakan acara gebyar menggiring Rabo (instalasi untuk terumbu karang) di jalur jalan perkotaan yang telah ditentukan dengan judul Sea.Lebration yang menampilkan kemeriahan estetis komunal masyarakat yang terlibat.

  • Penanaman Rabo, merupakan kegiatan penanaman instalasi terumbu karang di area konservasi Teluk Tapian Nauli. Kegiatan ini akan dilakukan dari Pelabuhan Kota Sibolga menuju kawasan konservasi.

Festival ini dilakukan untuk memperingati Hari Ikan Nasional dan menyambut libur akhir tahun sebagai acara puncak. Sebelumnya akan dilakukan beberapa pra-acara seperti FKK Goes to Campus dan Sibolga Cleanup Day yang dilakukan di Pulau Poncan Gadang.


Simak selalu rangkaian acara ini dan harapan kami untuk mengajak partisipasi publik serta kolaborasi seluruh pihak terkait, baik itu saat acara ini berlangsung maupun menindak-lanjuti pesan dan komitmen moral untuk pelestarian budaya dan lingkungan di Sibolga Tapteng.


(ATR)


14 views0 comments

Kommentare


bottom of page