KISAH MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN: PERTEMPURAN HEROIK DI TELUK TAPIAN NAULI
- FKK Sibolga-Tapteng
- 3 days ago
- 4 min read
21 Februari 2026
Sebuah monumen bersejarah yang mungkin kurang terperhatikan di persimpangan jalan utama Sibolga, dekat dengan Pom Bensin Pertamina Taman Bunga dan Pangkalan TNI AL. Tugu Pertempuran Teluk Tapian Nauli yang diresmikan oleh Panglima ABRI Jenderal Faisal Tanjung pada 11 Juli 1996 menjadi pengingat kepada masyarakat masa kini atas sebuah kisah perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan,yaitu pertempuran heroik di Teluk Tapian Nauli.
Teluk ini dikenal sebagai perairan yang tenang. Sebelum tahun 1950, ombaknya bersahabat, anginnya lembut, dan pantainya indah yang menjadi kebanggaan warga. Tak ada topan besar, tak ada badai dahsyat. Namun pada Mei 1947, ketenangan itu pecah. Bukan oleh angin ribut, melainkan oleh gelegar meriam kapal perang Belanda. Laut yang biasanya damai berubah menjadi arena pertempuran mempertahankan kedaulatan.

Peristiwa ini terjadi di tengah suasana gencatan senjata pasca Persetujuan Linggarjati. Secara formal, Indonesia dan Belanda sedang menahan diri. Tetapi di berbagai daerah, ketegangan tetap menyala. Di Sibolga, percikan itu membesar menjadi api perlawanan.
Pada 9 Mei 1947, sebuah kapal perang Belanda bernomor JT-1 (HMS Bankert) memasuki Teluk Sibolga. Dalihnya: mengejar dan menangkap kapal dagang yang dituduh melakukan penyelundupan. Situasi memanas ketika dua anggota ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) sempat terbawa dalam insiden tersebut, meski kemudian dikembalikan dengan selamat. Pemerintah setempat, melalui Residen Tapanuli Dr. Ferdinand Lumban Tobing, segera mengirim surat protes dan meminta kapal Belanda meninggalkan wilayah yang merupakan daerah Republik Indonesia.
Kapal JT-1 sempat menjauh. Namun ketegangan belum usai.
Keesokan harinya, 10 Mei 1947, Sibolga baru saja menyelesaikan pelantikan Pangkalan “A” ALRI ketika kabar datang: kapal JT-1 kembali mendekat. Pos penjagaan di Bukit Ketapang melihat pergerakan mencurigakan. Kapal itu menurunkan motorboat menuju kapal dagang MTS Sembilan. Pihak Republik mengirim utusan untuk berunding. Namun situasi berubah cepat. Motorboat Belanda bergerak agresif, menjepit motorboat ALRI yang dipimpin Letnan Oswald Siahaan.
Teriakan terdengar dari pihak Belanda agar motorboat ALRI dibawa ke kapal perang. Letnan Oswald menolak dan berusaha kembali ke pangkalan. Tiba-tiba terdengar komando “Vuur!”—tembak! Peluru ditembakkan ke arah motorboat Indonesia.

Motorboat itu berhasil merapat ke darat. Letnan Oswald meloncat dan berlindung, lalu memberi perlawanan. Dari Bukit Ketapang dan pantai, pasukan Polisi-Tentara Laut membalas tembakan. Pertempuran berlangsung sekitar setengah jam. Dalam kekacauan itu, Kopral Galung Silitonga terluka parah saat mengawal motorboat. Ia dilarikan ke rumah sakit, namun gugur dalam tugas. Ia menjadi salah satu martir dalam pertempuran laut Sibolga.
Malamnya, komando Angkatan Darat dan Angkatan Laut menggelar rapat darurat di bawah pimpinan Kapten Sarumpaet. Mereka sadar bahwa Belanda tidak akan berhenti. Diputuskan untuk memperkuat pertahanan dan bersiap menghadapi serangan lebih besar. Rakyat diminta mengungsi mulai 11 Mei demi menghindari korban sipil.
Dan benar saja. Pada 11 Mei sore, kapal JT-1 kembali muncul. Sebuah perahu pincalang dari Gunung Sitoli sempat dihentikan dan nakhodanya diminta naik ke kapal perang Belanda. Ia kemudian dilepas membawa surat tuntutan agar dua personel kapal dagang yang tertinggal di Sibolga dikembalikan. Dengan itikad baik, pihak Republik mengirim mereka kembali, namun sekaligus menyampaikan ultimatum: kapal JT-1 harus meninggalkan Teluk Sibolga sebelum pukul 10.00 pagi, 12 Mei 1947.
Ultimatum itu menjadi garis batas.
Pagi 12 Mei, pasukan Republik telah bersiaga. Bantuan dari Balige di bawah Letnan Kolonel Jansen Siahaan tiba. Laskar Pesindo menjaga sepanjang Onan Sibolga hingga Pasar Belakang. Mobile Brigade menempatkan meriam di Ketapang, sementara Polisi Tentara bersiaga di sektor lain. Strategi disusun cermat. Meriam anti-tank di Aek Habil disiapkan sebagai pancingan, sementara meriam besar ditempatkan di Bukit Ketapang.
Tepat sebelum pukul 10.00, ketegangan memuncak. Namun sekitar tujuh menit sebelum waktu ultimatum berakhir, tembakan pertama terdengar dan dipicu oleh anggota yang tak sabar melihat kapal Belanda masih bertahan. Dentuman itu menjadi tanda dimulainya pertempuran kedua yang lebih dahsyat.
Meriam dan senapan mesin dari darat menghujani kapal perang Belanda. Anjungan kapal menjadi sasaran utama. Sekitar sepuluh menit pertama, kapal JT-1 belum membalas dimungkinkan karena terkejut atau belum siap. Namun setelah menyadari keseriusan serangan, kapal itu bergerak maju-mundur dan memuntahkan peluru meriamnya ke daratan.

Bukit Ketapang menjadi sasaran empuk. Satu peluru besar berhasil membungkam posisi meriam di sana. Sebagian tembakan Belanda meleset karena gelombang besar mengguncang kapal. Namun beberapa peluru menghantam daratan. Deretan rumah di Kampung Cino I (permukiman jalan S. Parman) terbakar. Daerah basis ALRI ikut terdampak. Tim pemadam dan pasukan dikerahkan untuk menyelamatkan warga dan harta benda.
Pertempuran berlangsung sekitar tiga perempat jam. Korban berjatuhan. Dari pihak ALRI gugur Letnan Muda Alimum Hutagalung, Kopral Buyung Sinaga, dan Kopral Toto Harahap. Letnan I Sulaeman dan Prajurit Amir Pohan mengalami luka berat. Dari Angkatan Darat, Letnan I Lase dan seorang prajurit dari Balige turut gugur. Dua warga sipil juga menjadi korban.
Di pihak Belanda, korban juga dilaporkan cukup banyak. Sore harinya, sebuah pesawat Catalina mendarat dekat kapal JT-1 untuk mengevakuasi prajurit yang terluka. Keesokan paginya, kapal perang Belanda itu akhirnya meninggalkan perairan Sibolga.
Dua kali pertempuran pada tanggal 10 dan 12 Mei 1947 menjadi bukti bahwa Sibolga bukan kota kecil yang pasif. Di teluk yang biasanya tenang itu, semangat perlawanan membara. Para pemuda, tentara, dan rakyat bersatu mempertahankan tanah air. Mereka tahu kekuatan tak seimbang. Senjata terbatas, meriam bahkan sempat macet. Namun tekad mereka lebih keras daripada baja kapal perang.
Kisah Teluk Tapian Nauli bukan sekadar cerita perang, melainkan sebagai pengingat bahwa kemerdekaan tidak dijaga dengan kata-kata, melainkan keberanian dan pengorbanan. Laut yang tenang itu pernah menjadi saksi bahwa harga diri bangsa tidak bisa ditawar.
Kini, saat kita menikmati damainya Sibolga dan indahnya Tapian Nauli, penting untuk mengingat bahwa di balik debur ombak yang lembut, pernah bergema suara meriam dan teriakan perjuangan. Dan dari sana, lahir cerita heroik yang layak terus dikenang dan diserap sebagai sebuah semangat pembangunan daerah yang menyejahterakan masyarakatnya.
(ATR)
Referensi: Bunga Rampai Tapian Nauli (1995)
















Comments