top of page

DSD - SEJARAH KOTA SIBOLGA DALAM MEDIA, WACANA, DAN CERITA: MENJEMPUT KEMBALI IDENTITAS KOTA PUSAKA

01 Mei 2026


FKK Sibolga Tapteng kembali menghadirkan ruang diskusi publik melalui program Duduk Samo Dusanak pada 28 April 2026 di Kedai Kopi 88 dan zoom meeting, dengan tema “Sejarah Kota Sibolga dalam Media, Wacana, dan Cerita.” Diskusi ini menjadi wadah refleksi kolektif bagi masyarakat, akademisi, budayawan, pemerintah, dan generasi muda untuk melihat kembali posisi Sibolga sebagai kota yang kaya sejarah, namun masih menghadapi tantangan besar dalam pelestarian identitasnya. Kegiatan ini didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sumatera Utara - Kementerian Kebudayaan RI.


Sibolga bukan sekadar kota pesisir biasa. Secara geografis, kota ini terletak di Teluk Tapian Nauli yang sejak abad pertama telah menjadi bagian dari jalur perdagangan maritim dunia. Dalam paparan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Tapteng Sibolga, M. Nurdin Ahmad Tanjung, dijelaskan bahwa kawasan pesisir barat Sumatera, termasuk Sibolga, memiliki hubungan erat dengan Barus sebagai pusat perdagangan rempah dan gerbang masuk peradaban dunia. Bukti arkeologis, naskah sejarah, dan artefak menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi titik temu budaya, agama, dan perdagangan internasional.



Namun ironisnya, kota dengan sejarah sebesar ini justru menghadapi masalah serius, yaitu minim dokumentasi dan lemahnya narasi publik tentang sejarah lokal. Banyak cerita tentang Sibolga hanya hidup dalam ingatan lisan dan ruang diskusi kecil, tanpa dokumentasi yang memadai. Di era digital saat ini, informasi tentang Sibolga sering kali kabur, terpecah, bahkan kehilangan akurasi. Narasi sejarah yang seharusnya menjadi fondasi identitas masyarakat justru belum sepenuhnya hadir dalam media, pendidikan, dan ruang publik.


Dalam perspektif pendidikan, Ikbal Husni, M.Hum dari STAIB menyoroti bahwa ancaman terbesar hari ini bukan hanya hilangnya benda budaya, tetapi juga hilangnya rasa memiliki. Banyak warisan sejarah belum tercatat secara akademik, riset lokal masih minim, dan pembelajaran sejarah di sekolah belum sepenuhnya mengintegrasikan muatan lokal. Padahal, sejarah lokal bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen penting pembentukan identitas sosial masyarakat.



Kondisi ini diperparah oleh kesenjangan antara pembangunan fisik dan pembangunan kebudayaan. Kota terus berubah, infrastruktur terus tumbuh, tetapi unsur lokalitas kerap terabaikan. Nama bangunan, kawasan, hingga konsep wisata masih belum kuat merepresentasikan identitas budaya Sibolga. Akibatnya, kota tumbuh secara visual, tetapi kehilangan kekuatan simboliknya.


Di sisi lain, Sibolga memiliki potensi besar untuk bangkit melalui sejarah dan kebudayaan. Ahmad Naufal, S.Sn dari FKK Sibolga Tapteng menegaskan bahwa banyak kota di Indonesia dan dunia berhasil berkembang melalui penguatan identitas sejarahnya. Yogyakarta, Semarang, Georgetown di Penang, hingga Kyoto di Jepang menjadi contoh bahwa warisan budaya dapat menjadi aset ekonomi, sosial, dan edukasi jika dikelola secara strategis.



Sibolga memiliki modal serupa. Kota ini kaya akan situs sejarah, tradisi lisan, bahasa pesisir, kuliner khas, seni, serta lanskap maritim yang kuat. Program-program komunitas seperti Sehari Sibolga, Sibolga Heritage Trail, Museum Temporer, podcast Latar Kata, hingga penulisan cerita rakyat menunjukkan bahwa gerakan pelestarian telah tumbuh dari masyarakat. Namun gerakan ini memerlukan dukungan yang lebih besar dan sistematis.


(Materi paparan narasumber dalam diunduh disini)


Beberapa gagasan strategis muncul dari forum ini. Pertama, pendirian Museum Sibolga permanen sebagai pusat edukasi dan penyimpanan memori kolektif masyarakat. Museum tidak hanya menjadi tempat benda bersejarah, tetapi juga pusat pembelajaran interaktif bagi generasi muda. Kedua, pengembangan kawasan kota tua dan pelabuhan lama sebagai destinasi wisata sejarah. Penataan kawasan berbasis identitas lokal akan memperkuat citra Sibolga sebagai kota pusaka.



Ketiga, integrasi sejarah lokal dalam pendidikan formal melalui penguatan muatan lokal, kunjungan lapangan, dan kolaborasi sekolah dengan komunitas budaya. Keempat, penguatan dokumentasi digital melalui buku, film dokumenter, arsip digital, media sosial, dan platform kreatif agar narasi sejarah tidak hanya bertahan, tetapi berkembang mengikuti zaman. Dan kelima, kolaborasi lintas sektor dengan berbagai program antara pemerintah, kampus, komunitas, pers, dan masyarakat. Sejarah tidak bisa dijaga oleh satu pihak saja. Pelestarian harus menjadi gerakan bersama.


Hal yang paling penting saat ini adalah Sibolga perlu membangun kembali rasa bangga terhadap identitasnya. Ketika generasi muda tidak mengenal tokoh daerahnya sendiri, tidak mengetahui asal-usul kotanya, dan tidak merasakan hubungan emosional dengan sejarahnya, maka ancaman terbesar bukanlah hilangnya bangunan tua, melainkan hilangnya jati diri.



Diskusi Duduk Samo Dusanak ini menjadi langkah awal yang penting. Forum ini bukan sekadar membicarakan masa lalu, tetapi menyalakan kesadaran bahwa masa depan Sibolga sangat bergantung pada kemampuannya membaca sejarah, merawat budaya, dan mengubah warisan menjadi kekuatan pembangunan.


Sudah waktunya Sibolga tidak hanya dikenal sebagai kota yang indah di tepi laut, tetapi juga sebagai kota yang mampu merawat ingatan, memperkuat identitas, dan menjadikan sejarah sebagai energi kemajuan. Jika sejarah dibiarkan diam, ia akan terkubur. Tetapi jika dihidupkan melalui media, wacana, dan cerita, maka ia akan menjadi cahaya yang menuntun arah masa depan kota ini.


Sibolga memiliki cerita besar. Yang dibutuhkan hari ini adalah keberanian untuk menuliskannya, merawatnya, dan mewariskannya. Karena kota yang mengenal sejarahnya, akan lebih siap menentukan masa depannya.


(ATR)

Comments


Logo FKK-01.png
Logo FML b-06.png
Logo Runduk Art Studio-02.png
Brand-02_edited.jpg

Official Merchandise

Logo FKK [Recovered]-06 b.png

SK Menteri Hukum dan HAM RI No:
AHU-0029695.AH.01.04. Tahun 2021

0821 1551 0233 / 0852 7724 6409

  • YouTube
  • Instagram
  • Facebook

©2025 by FKK Sibolga Tapteng

Supported by

Warung Etek Bungsu bw.png
logo almus re.png
logo alumni al-muslimin REV.png
bottom of page