top of page

TIANG BESI TUA DI SIBOLGA: JEJAK INFRASTRUKTUR TELEKOMUNIKASI KOLONIAL DI PANTAI BARAT SUMATRA

08 Maret 2026


Di salah satu sudut pusat Kota Sibolga, tepatnya di depan kantor PT Pos Indonesia dan Telkomsel, berdiri sebuah tiang besi tua yang menarik perhatian. Sekilas, keberadaannya tampak seperti bagian dari infrastruktur lama yang tertinggal di tengah perkembangan kota modern. Namun apabila diamati lebih cermat, bentuk konstruksi rangka besinya yang khas menunjukkan bahwa tiang tersebut kemungkinan merupakan peninggalan jaringan telekomunikasi dari masa Hindia Belanda pada awal abad ke-20.


Temuan ini menjadi menarik karena dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan awal sistem komunikasi modern di wilayah pantai barat Sumatra, khususnya di Sibolga yang pada masa kolonial memiliki posisi penting dalam struktur administrasi pemerintahan Belanda.


Sejak pertengahan abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda mulai membangun jaringan komunikasi modern di wilayah Hindia Belanda. Teknologi yang pertama kali digunakan adalah telegraf listrik, sebuah sistem yang memungkinkan pesan dikirim melalui sinyal listrik dengan menggunakan kode Morse. Kehadiran telegraf menjadi lompatan besar dalam sejarah komunikasi karena mampu mempercepat penyampaian informasi yang sebelumnya memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu.



Untuk mengelola layanan komunikasi tersebut, pemerintah kolonial membentuk lembaga resmi bernama Post, Telegraaf en Telefoon Dienst. Lembaga ini bertanggung jawab atas penyelenggaraan layanan pos, telegraf, dan kemudian telepon di seluruh wilayah Hindia Belanda.


Dalam praktiknya, jaringan komunikasi ini dibangun dengan membentangkan kabel telegraf atau telepon yang ditopang oleh tiang-tiang penyangga. Pada tahap awal, tiang tersebut umumnya terbuat dari kayu. Namun seiring waktu, penggunaan tiang besi semakin umum karena dianggap lebih tahan terhadap kondisi iklim tropis serta memiliki daya tahan yang lebih baik.


Keberadaan infrastruktur telekomunikasi di Sibolga tidak dapat dilepaskan dari posisi strategis kota ini dalam struktur pemerintahan kolonial. Pada masa Hindia Belanda, Sibolga pernah menjadi ibu kota Residentie Tapanoeli, sebuah wilayah administratif yang mencakup sebagian besar kawasan Tapanuli.


Sebagai pusat administrasi dan pelabuhan utama di pantai barat Sumatra, Sibolga memiliki peran penting dalam kegiatan pemerintahan, perdagangan, serta mobilitas informasi. Oleh karena itu, jaringan telegraf dan telepon menjadi infrastruktur vital yang memungkinkan komunikasi cepat antara Sibolga dengan kota-kota lain seperti Padang, Medan, hingga Batavia.



Dalam konteks tersebut, keberadaan tiang besi di depan kantor pos kemungkinan merupakan bagian dari jaringan komunikasi yang menghubungkan kantor-kantor pemerintahan, fasilitas pelabuhan, serta berbagai institusi kolonial yang beroperasi di kota ini.


Dugaan asal produksi dari Surabaya


Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk dan konstruksi rangkanya, terdapat dugaan bahwa tiang besi tersebut diproduksi di Surabaya, yang pada masa kolonial dikenal sebagai salah satu pusat industri dan manufaktur terbesar di Hindia Belanda.


Pada periode tersebut, Surabaya memiliki sejumlah perusahaan yang memproduksi berbagai komponen infrastruktur, termasuk peralatan listrik dan telekomunikasi. Salah satu perusahaan yang cukup dikenal adalah Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits Maatschappij atau ANIEM. Perusahaan ini mengelola pembangkit listrik sekaligus jaringan distribusi tenaga listrik di berbagai kota di Hindia Belanda.


ANIEM dikenal menggunakan tiang besi yang populer disebut sebagai “cagak ANIEM” untuk menopang jaringan listrik. Tiang-tiang tersebut memiliki karakter konstruksi rangka besi yang kuat serta desain yang relatif khas. Kemiripan bentuk antara cagak ANIEM dan tiang yang ditemukan di Sibolga menimbulkan dugaan bahwa tiang tersebut kemungkinan diproduksi oleh industri logam yang sama atau berasal dari jaringan infrastruktur yang berkaitan dengan perusahaan listrik kolonial tersebut.


Nilai sejarah dan potensi objek cagar budaya


Salah satu aspek penting dari temuan ini adalah nilai kelangkaannya. Seiring perkembangan teknologi, sebagian besar infrastruktur telekomunikasi lama telah digantikan oleh sistem yang lebih modern. Tiang-tiang kayu banyak yang lapuk atau dibongkar, sementara tiang besi lama sering diganti dengan struktur baru yang lebih praktis dan efisien.


Akibatnya, sangat sedikit contoh asli yang masih bertahan hingga saat ini. Beberapa temuan serupa memang pernah dilaporkan di sejumlah kota di Indonesia, namun jumlahnya sangat terbatas. Oleh karena itu, keberadaan tiang besi di Sibolga dapat dipandang sebagai salah satu artefak penting yang merepresentasikan sejarah perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia.



Selain nilai teknologinya, tiang ini juga memiliki nilai historis yang berkaitan erat dengan perkembangan kota Sibolga sebagai pusat administrasi dan pelabuhan kolonial. Keberadaannya di kawasan yang sejak lama menjadi pusat layanan komunikasi, mulai dari Kantor Pos hingga jaringan telekomunikasi modern di Kawasan Pelabuhan Lama, memberikan makna simbolis mengenai perjalanan panjang perkembangan sistem komunikasi.


Dengan mempertimbangkan nilai sejarah, kelangkaan, serta keterkaitannya dengan perkembangan infrastruktur kolonial, tiang besi ini memiliki potensi untuk dipertimbangkan sebagai objek yang bernilai cagar budaya. Penelitian lebih lanjut melalui kajian sejarah, arsip kolonial, maupun analisis teknis terhadap materialnya dapat membantu memastikan asal-usul serta fungsi awal tiang tersebut.


Apabila keberadaannya dapat diidentifikasi secara lebih jelas, tiang ini tidak hanya menjadi artefak teknologis semata, tetapi juga dapat berfungsi sebagai penanda sejarah kota. Keberadaannya dapat membantu masyarakat memahami bagaimana jaringan komunikasi modern mulai berkembang di wilayah ini lebih dari satu abad yang lalu.


(ATR)

Comments


Logo FKK-01.png
Logo FML b-06.png
Logo Runduk Art Studio-02.png
Brand-02_edited.jpg

Official Merchandise

Logo FKK [Recovered]-06 b.png

SK Menteri Hukum dan HAM RI No:
AHU-0029695.AH.01.04. Tahun 2021

0821 1551 0233 / 0852 7724 6409

  • YouTube
  • Instagram
  • Facebook

©2025 by FKK Sibolga Tapteng

Supported by

Warung Etek Bungsu bw.png
logo almus re.png
logo alumni al-muslimin REV.png
bottom of page